PENGGUNAAN
MEDIA DIORAMA DALAM
PEMBELAJARAN TEMATIK DI
KELAS RENDAH SEKOLAH DASAR
Ahmad
Jalil Afandi
Universitas
Negeri Malang
Email:
ahmadljalilafandi@yahoo.com
ABSTRAK: Siswa SD masih
belum bisa diajak berfikir secara mendalam tentang materi. Mereka memandang
sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan. Sehingga dalam penyampaian
materi, dimulai dari hal yang umum kemudian menuju ke hal yang khusus. Mereka
juga belajar dari hal-hal yang konkrit dan secara bertahap menuju ke arah yang
abstrak. Hal tersebut yang mendasari adanya pembelajaran tematik. Untuk
pembelajaran konkrit, media pembelajaran pun diperlukan. Salah satu media
pembelajaran tersebut adalah diorama yang bisa memvisualisasikan suatu
lingkungan dan isinya.
Kata kunci: pembelajaran
tematik, kelas rendah, media
pembelajaran
Kurikulum 2013 telah
disahkan oleh pemerintah lewat Menteri Pendidikan Nasional dan dijalankan
sepenuhnya pada tahun pelajaran 2014/ 2015. Salah satu kebijakan yang sangat krusial
adalah penerapan pembelajaran model tematik di seluruh kelas sekolah dasar
kecuali kelas empat dan enam. Hal tersebut berarti bahwa pembelajaran tematik
yang dulunya hanya diterapkan di kelas rendah, pada kurikulum 2013 akan
diterapkan di kelas tinggi. Padahal banyak keluhan dari guru kelas rendah yang
menerapkan pembejaran tematik tersebut. Salah satu yang dikeluhkan adalah
sulitnya media pembelajaran yang digunakan. Karena tidak semua sekolah dan
lingkungannya sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Disamping itu banyak
guru kelas di sekolah dasar tidak bisa membuat media pembelajaran yang kreatif
dan inovatif.
KARAKTERISTIK
SISWA KELAS RENDAH SEKOLAH DASAR
Siswa kelas rendah
adalah dimana siswa tersebut masih menduduki kelas satu sampai kelas tiga
(Supandi, 1992: 44). Dalam rentang ini, siswa tersebut masih suka bermain dan
lebih suka bergembira/riang (Basset, Jacka, dan Logan:1983). Hal tersebut
terjadi karena siswa kelas rendah merupakan masa transisi dari masa Taman
Kanak-kanak maupun PAUD. Mereka masih belum bisa diajak berfikir secara
mendalam tentang materi. Dalam proses adaptasi terhadap materi, guru hendaknya
menyampaikan materi dengan cara yang fun
sehingga siswa tidak akan ‘kaget’ menerima
materi yang disampaikan.
Siswa
kelas rendah memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu
keutuhan, mereka belum mampu mempelajari
konsep dari berbagai disiplin ilmu yang terpisah-pisah. Sehingga dalam
penyampaian materi, dimulai dari hal yang umum kemudian menuju ke hal yang
khusus. Guru tidak bisa memaksakan kehendak siswa untuk memahami materi yang
disampaikan. Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang
secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih
kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai
urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman
materi.
Karakteristik yang
tidak kalah penting adalah mereka belajar dari hal-hal yang konkrit dan secara
bertahap menuju kearah yang abstrak. Konkret mempunyai arti sesuatu yang dapat
dilihat, diraba, dicium, dan didengar oleh panca indera. Siswa kelas rendah
belum bisa untuk berpikir abstrak, mereka hanya memikirkan apa yang telah
dilihatnya. Sehingga pembelajaran di kelas rendah sebaiknya menggunakan media
pembelajaran supaya materi yang disampaikan oleh guru akan dipahami oleh siswa
sepenuhnya.
PEMBELAJARAN
TEMATIK
Pendekatan
tematik adalah pendekatan holistik, yang mengkombinasikan aspek epistemologi,
sosial, psikologi, dan pendekatan pedagogik untuk mendidik anak, yaitu
menghubungkan antara otak dan raga, antara pribadi dan pribadi, antara individu
dan komunitas, dan antara domain-domain pengetahuan (Udin Sa’ud dkk, 2006).
Sedangkan dalam blog suaidinmath
(2013) menyatakan bahwa pembelajaran tematik adalah pendekatan pembelajaran
yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang
bermakna kepada peserta didik. Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa
pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang mengkombinasikan pendekatan
holistik, aspek epistemologi, sosial, psikologi, dan pendekatan pedagogik yang
melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman bermakna kepada
siswa. Pengalaman bermakna disini dimaksudkan bahwa dengan pembelajaran tematik
tersebut siswa bisa memahami materi yang disampaikan serta mampu
mengimplementasikannya di kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran
tematik mempunyai beberapa karakteristik, antara lain: (1) pembelajaran tematik
berpusat pada siswa ( student centered
). Dalam proses pembelajaran tematik siswa dituntut untuk aktif. Siswa dituntut
untuk menemukan sendiri materi yang akan dipelajari. Tugas guru hanya sebagai
fasilitator dan atau mengarahkan siswa; (2) pembelajaran tematik dapat memberikan
pengalaman langsung kepada siswa (direct
experiences). Pengalaman langsung tersebut di dapat oleh siswa ketika
mereka melihat secara langsung hal yang konkrit. Sehingga pemahaman mereka
terbangun setelah mendapatkan pengalaman langsung tersebut; (3) pemisahan antar
mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Pemisahan yang tidak begitu jelas
memungkinkan bahwa materi yang disampaikan mempunyai keterkaitan dengan
kehidupan sehari-hari; (4) penyajian konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran
dalam suatu proses pembelajaran. Dengan penyajian konsep tersebut diharapkan
siswa mampu memahami materi secara utuh; (5) pembelajaran tematik bersikap
luwes (fleksibel), fleksibilitas tersebut dimungkinkan guru tidak terpaku
kepada materi tetapi lebih kepada lingkungan sekitar.
MEDIA
PEMBELAJARAN
Media pembelajaran adalah
salah satu aspek yang terpenting dalam proses pembelajaran. Kata media sendiri
berasal dari kata medius yang secara
harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Dengan adanya pengertian
tersebut media pembelajaran adalah sarana atau alat fisik yang digunakan oleh
seseorang/guru untuk menyampaikan materi atau pengetahuan dalam proses belajar
mengajar (Briggs, 1977). Hal tersebut selaras dengan pendapat Ibrahim dkk
(2006) yang menyatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang
dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran) sehingga dapat
merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar
untuk mencapai pembelajaran tertentu. Dari deskripsi tentang pengertian media
di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu atau
alat yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi atau pesan dalam proses
belajar sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan
peserta didik dalam proses kegiatan belajar mengajar.
Media
pembelajaran tersebut diklasifikasikan oleh Rudy Brets sebagai berikut:
· Media
audio visual gerak, adalah perpaduan dari gambar yang bisa bergerak dan
mengeluarkan suara, contohnya adalah film bersuara, televisi, animasi, film
pada televisi, dan pita video.
· Media
audio visual diam, adalah perpaduan dari gambar yang diam dan bisa mengeluarkan
suara, misalnya film rangkai suara, halaman suara, dan sound slide.
· Audio
semi gerak, misalnya tulisan jauh bersuara.
· Media
visual bergerak, adalah media berupa gamabar yang bergerak tanpa adanya suara,
misalnya film bisu.
· Media
visual diam, adalah media berupa gambar yang diam dan tanpa suara apapun,
contohnya halaman cetak, photo, slide bisu.
· Media
audio, adalah media yang hanya mengeluarkan suara saja, misalnya radio,
telepon, pita audio/kaset.
· Media
cetak, adalah media yang mengalami proses printing
dan biasanya berupa buku, contohnya modul, buku ajar.
Berdasarkan
deskripsi diatas dapat dipetakan lebih padat bahwa klasifikasi media
pembelajaran yaitu: (1) media audio; (2) media visual; (3) media dua dimensi;
(4) media tiga dimensi.
Sedangkan, Anderson (1997)
memetakan klasifikasi media sebagai berikut:
Tabel 1.1:
Klasifikasi Media
No.
|
Kelompok Media
|
Contoh
Media
|
1.
|
Audio
|
·
Pita audio (rol atau kaset)
·
Piringan audio
·
Radio (rekaman siaran)
|
2.
|
Cetak
|
·
Buku teks terpogram
·
Buku pegangan/manual
·
Buku tugas
|
3.
|
Audio-Cetak
|
·
Buku latihan disertai kaset
·
Gambar/poster (dilengkapi
audio/suara)
|
4.
|
Visual Diam
|
·
Film bingkai (slide)
·
Film rangkai (berisi pesan
verbal)
|
5.
|
Visual Diam
dengan Audio
|
·
Film bingkai (slide) bersuara
·
Film rangkai bersuara
|
6.
|
Visual Gerak
|
·
Film bisu dengan judul (caption)
|
7.
|
Visual Gerak
dengan Audio
|
·
Film suara
·
Video/vcd/dvd
|
8.
|
Benda
|
·
Benda nyata
·
Benda tiruan (mock up)
|
9.
|
Komputer
|
·
Media berbasis komputer; CAI (Computer Assited Instructional) dan
CMI (Computer Managed Instructional)
|
Dalam
pendapatnya, Anderson menambahkan komputer dalam klasifikasi sendiri. Hal ini dikarenakan
komputer mempunyai seperangkat yang sengaja disusun untuk menjalankan program
tertentu. Sehingga program yang ada di dalam komputer merupakan satu kesatuan
yang membentuk suatu media.
Dalam
proses KBM, ada beberapa prosedur yang di lakukan untuk menentukan media
pembelajaran yang digunakan. Prosedur tersebut dapat dilihat melalui bagan di
bawah ini.

Gambar 1.1:
Prosedur Pemilihan Media Pembelajaran
Pertama, mencermati materi pembelajaran
pada satu mata pelajaran dalam satu semester sesuai dengan Standar Kompetensi
dan Kompetensi Dasar. Hal tersebut dianggap penting karena dengan proses
mencermati tersebut akan diketahui apa yang akan disampaikan kepada siswa pada
proses KBM. Kedua, memilih beberapa
metode yang dianggap tepat digunakan dalam penyampaian materi tersebut.
Pemilihan metode tersebut disesuaikan dengan sifat yang dimiliki oleh siswa,
waktu yang tersedia untuk penyampaian materi tersebut dan layak tidaknya media
yang digunakan. Ketiga, menentukan
jenis dan bentuk media pembelajaran yang akan digunakan. Penentuan tersebut
disesuaikan dengan kemampuan guru dalam menggunakan dan menjalankan media
tersebut. Disamping itu, fasilitas belajar lainnya seperti buku paket, LKS, dan
sebagainya juga menjadi faktor pendukung dalam penentuan jenis dan bentuk media
tersebut.
Dalam
sumber lain menyatakan bahwa disamping deskripsi di atas ada beberapa kriteria,
yaitu pertama, media yang digunakan
bersifat praktis, luwes, dan bertahan. Media yang digunakan merupakan sesuatu
yang mudah didapat dan ekonomis. Dengan demikian kreatifitas guru sangat
diperlukan dalam membuat media. Media dengan biaya yang mahal belum bisa
menjamin kualitasnya baik. Kedua, mutu
teknis dari media yang akan digunakan. Media tersebut hendaknya memenuhi
persyaratan tertentu supaya fungsinya dapat tersampaikan kepda siswa. Media
sebagus apapun jika tidak ada informasi yang tersampaikan hanya membuang-buang
waktu saja. Ketiga, pengelompokan terhadap
sasaran yang melihat media tersebut. Media yang akan digunakan dalam kelas
rendah dengan kelas tinggi otomatis berbeda. Sehingga perlu ditentukan terlebih
dahulu kepada siapakah media tersebut ditampilkan atau disajikan.
MEDIA
DIORAMA
Diorama dapat
dideskripsikan:
· Suatu
sajian pemandangan dalam ukuran kecil yang dilengkapi dengan patung-patung, dan
penggambaran lingkungan sekitar seperti keadaan aslinya.
· Pameran
spesimen satwa atau suatu peristiwa bernilai sejarah dalam ukuran sesuai
aslinya atau dibuat lebih kecil/terbatas yang dilengkapi dengan lingkungan alam
sekitarnya.
· Suatu
kotak yang melukiskan suatu pemandangan dengan latar belakang yang dilukiskan
di dinding atau ditata di sekitar objek sehingga menggambarkan suatu suasana
yang sebenarnya.
Dari
beberapa deskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa diorama adalah suatu kotak
yang di dalamnya berisi dengan tiruan pemandangan atau suatu benda yang lengkap
dengan sesuatu yang berada di sekitarnya. Kesemuanya tersebut dibuat lebih
kecil daripada keadaan aslinya. Diorama biasanya digunakan dalam menggambarkan
kejadian dan atau suatu proses supaya yang melihatnya tertarik untuk memahami
isi tersebut. Media ini kebanyakan digunakan dalam museum sejarah maupun
binatang langka.
Karakteristik
media ini adalah wujud dari pemandangan dan atau lingkungan serta isinya sama
persis dengan bentuk kecilnya. Sehingga ketika sedang melihat lingkungan sawah
misalnya, diorama harus memperhatikan detail pemandangan tersebut. Dalam
pembuatannya, ada beberapa yang hendaknya diperhatikan yaitu tentang ukuran
diorama yang disesuaikan dengan tempat yang digunakan serta siapa dan berapa
banyak siswa yang akan melihatnya. Kemudian, bahan yang digunakan juga
diperhatikan. Bahan yang digunakan tidak harus baru dan mahal, bahan bekas juga
bisa digunakan dan akan menambah nilai plus pada diorama tersebut. Warna pun
juga diperhatikan, tentunya warna yang digunakan disesuaikan dengan keadaan
pemandangan dan atau lingkungan yang akan dibuat tiruannya.
Jenis
diorama ada tiga, yaitu: pertama, diorama
tertutup adalah diorama yang dibatasi oleh alas/dasar dengan dinding samping
kanan, dinding belakang dan dinding samping kiri. Sedangkan bagian depannya
dibatasi dengan kaca transparan/bening. Sehingga jenis diorama ini hanya bisa
dilihat dari sisi depannya saja. Biasanya model tertutup ini digunakan di
museum-museum seperti Monas Jakarta, Monumen Yogya Kembali, Museum Satwa di
Batu. Dalam bentuk sederhana yang digunakan untuk tingkat sekolah dasar dapat
dibentuk model pemandangan sawah dengan latar belakang gunung dan awan yang
ditata di bidang dasar serta dibatasi dinding di samping kanan, kiri dan
belakang. Seperti terlihat gambar di bawah ini.

Gambar 1.2: Rancangan Gambar Diorama Tertutup I

Gambar 1.3: Rancangan Gambar Diorama Tertutup II
Kedua,
diorama lipat yang dibuat dari lembaran kertas yang dapat membentuk tiga
dinding yang menyatu atau suatu sudut ruangan, dimana antara dinding/ruangan
samping kanan dengan samping kiri bisa dilipat (dibuka dan atau ditutup) sesuai
dengan penggunaannya. Jenis ini adalah model diorama yang paling terpraktis
karena lipatan tersebut bisa dibawa dan disimpan dengan mudah. Disamping itu,
diorama ini sangat sulit dan memerlukan kesabaran dalam membuatnya karena harus
tepat ketika melekatkan pola di kertas dinding. Di bawah ini salah satu contoh
diorama lipat dengan tema rumah dan lingkungannya.

Gambar 1.4: Rancangan Gambar Diorama Lipat
Ketiga
adalah diorama terbuka adalah diorama yang tidak dilengkapi oleh dinding batas
pandangan seperti halnya kedua jenis sebelumnya. Diorama jenis ini
karakteristiknya hampir sama dengan maket yaitu suatu penggambaran suatu objek
di atas bidang datar. Seperti terlihat di bawah ini.

Gambar 1.5: Rancangan Gambar Diorama Terbuka
PENGGUNAAN
MEDIA DIORAMA DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK DI KELAS RENDAH
Dalam penggunaan media
diorama, langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan tema yang akan
disampaikan kepada siswa. Penentuan tema tersebut sejalan dengan rencana pelaksanaan
pembelajarn yang dibuat guru sebelumnya. Setelah tema telah ditentukan, langkah
kedua adalah membuat perencanaan pembuatan diorama terlebih dahulu. Mulai dari
pemilihan dan pembelian bahan, warna, serta menentukan jenis diorama yang akan
digunakan. Perencanaan ini bertujuan agar guru tidak kesulitan dalam proses
pembuatan diorama tersebut. Selain itu, perencanaan bertujuan agar waktu yang
digunakan akan efektif dan efisian.
Setelah
proses perencanaan selesai, langkah ketiga adalah proses pembuatan. Pembuatan
diorama sangat memerlukan ketelatenan dan kreatifitas tinggi. Sehingga guru
hendaknya mempunyai kedua hal tersebut. Jika tidak memungkinkan, bisa dialihkan
kepada yang benar-benar ahli dalam pembuatan diorama. Dengan tetap pengawasaan
guru, supaya tema yang dibuat sesuai dengan apa yang direncanakan dan
diharapkan. Pengalihan tugas tersebut bertujuan agar hasilnya akan mendekati
sempurna jika guru benar-benar tidak bisa membuatnya. Ketika diorama tersebut
selesai dibuat, maka guru hendaknya melakukan simulasi terlebih dahulu seelum
disampaikan kepada siswa. Dikhawatirkan terjadinya beberapa kekurangan yang
bisa diantisipasi pada waktu simulasi. Supaya dalam proses pembelajaran tidak
ada kendala yang terlalu besar.
Setelah simulasi
selesai dilakukan, langkah yang terakhir adalah proses pembelajaran dengan
media diorama. Di langkah eksekusi ini ada tiga sesi, sesi yang pertama adalah
sesi sebelum pembelajaran. Dalam sesi ini sebaiknya diorama tersebut ditutup
dengan kain gelap. Hal ini bertujuan agar siswa menjadi penasaran terhadap
diorama yang akan disampaikan. Tentunya tidak mengurangi dan merusak diorama
tersebut. Kemudian sesi kedua yaitu sesi saat pembelajaran. Dalam sesi ini
siswa dibagi beberapa kelompok, lalu setiap kelompok secara bergantian.
Kemudian sesi ketiga adalah setelah pembelajaran, diorama dirapikan disimpan
jika lain waktu diperlukan kembali.
KESIMPULAN
Siswa kelas rendah SD memandang
sesuatu yang dipelajari sebagai suatu
keutuhan dan belajar dari hal-hal yang konkrit. Sehingga hal tersebut sesuai dengan pembelajaran
tematik yang memadukan beberapa mata pelajaran. Fungsi media pembelajaran
sebagai suatu visualisasi hal yang konkrit kepada siswa supaya materi yang disampaikan
bisa dipahami. Salah satunya adalah media diorama yaitu media yang berupa tiruan
pemandangan dan atau lingkungan dalam ukuran kecil.
DAFTAR
RUJUKAN
Arsyad,
Azhar. 2011. Media Pembelajaran.
Jakarta: Divisi Buku Perguruan Tinggi, PT RajaGrafindo Persada.
Haryanto.
2012. Pengertian Media
Pembelajaran. (Online), (http://belajarpsikologi.com/macam-macam-metode-pembelajaran/), diakses 06
Desember 2013.
Lestari,
Yulia. 2013. Karakteristik Anak SD
Kelas Rendah. (Online), (http://lestarimap.blogspot.com/2013/05/karakteristik-anak-sd-kelas-rendah_8852.html), diakses 07
Desember 2013.
Purbarini K., Sekar. 2011. Karakteristik
Siswa Sd Kelas Rendah dan Pembelajarannya. (Online), (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/KARAKTERISTIK%20DAN%20CARA%20BELAJAR%20SISWA%20SD%20KELAS%20RENDAH.pdf ), diakses 07 Desember 2013.
Suaidinmath.
2013. PEMBELAJARAN
TEMATIK TERPADU PADA KURIKULUM 2013.
(Online), (http://suaidinmath.wordpress.com/2013/09/03/pembelajaran-tematik-terpadu-pada-kurikulum-2013/), diakses 07 Desember 2013.
Sumanto.
2010. Media Pembelajaran di SD.
Malang: PHK S1 PGSD-A FIP Universitas Negeri Malang.
Uukurniawati. 2013. Konsep Dasar
Pembelajaran Tematik. (Online), (http://uukurniawati.wordpress.com/2013/05/17/konsep-dasar-pembelajaran-tematik/), diakses
07 Desember 2013.
izin copy dan sangat bagus untuk kelas rendah semoga berkah
BalasHapusLucky Club Live Casino Review 2021 - Lucky Club Live Casino
BalasHapusLucky Club luckyclub Casino Review. Lucky Club Casino is owned by Direx N.V. and is operated by Direx N.V. and it is licensed in Malta.
Betway Casino & Resort Tickets - JTH Hub
BalasHapusFind Betway Casino & Resort venue concert and event schedules, venue information, directions, and seating charts.Jan 15, 2022Dancing with the Stars - Jan 21, 2022Jingle with the Stars - Jan 22, 2022Jingle with the Stars - Jan 23, 2022Jingle with the Stars - Jan 24, 2022Jingle with the Stars - Jan 25, 2022Jingle with the Stars - Jan 26, 안동 출장안마 2022Jingle with the Stars - Jan 27, 2022Jingle with the Stars 경주 출장마사지 - Jan 28, 2022Jingle with the Stars - Jan 28, 2022Jingle with the Stars - Jan 29, 2022Jingle with the Stars - 천안 출장마사지 Jan 30, 익산 출장마사지 2022Jingle with the Stars - Jan 1, 2022Jingle with the Stars - Jan 1, 2022Jingle with the Stars - Jan 1, 2022Jingle with the Stars 통영 출장샵 - Jan 1, 2022J